“Mbang, hari ini kita bakal dapet banyak”
“Jangan senang dulu To, nanti seperti kemarin lagi”
“Tenang saja, kali ini pasti rapih. Si Lae udah aku ingatkan supaya ntar malam surga kita bener bener steril, trus aku juga udah pesen mobil ama Sam, ntar dia kita bagi dikit biar bacotnya ga kemana mana” Narto berkata sambil jemari tangannya mengkerucut menghadap mulutnya sendiri.
Di dalam temaram malam berbintang dan berada dibalik semak semak hutan Bambang dapat melihat dengan jelas gerakan tangan Narto. Ia geli melihat mulut sahabatnya yang saat itu terlihat bertambah mancung beberapa senti. Narto menoleh kepada sahabatnya.
“Kamu ngetawain aku?” Narto bertanya.
“Tidak, kamu itu menuduh aku terus ya?”
“Ah kamu emang selalu gitu kan? udah ngaku aja!” Narto mendorong Bambang lalu Bambang balas mendorongnya.
“Hah, kamu lebih percaya omongan orang daripada aku” Bambang kesal.
Terjadi dorong mendorong diantara mereka, sementara malam semakin pekat seiring hilangnya bintang dan rembulan dari langit malam. Terdengar sebuah suara. Mereka segera diam, tiarap, berguling di lumpur, dan merapatkan badan mereka ke tanah yang becek. Kini mereka seolah hilang, saru dengan tanah.
“Togar, cepat kamu periksa semak semak disana!”
“Ziap komandan!” si Togar yang biasa dipanggil Lae menjawab perintah atasannya.
“Kamu” Jono sang komandan menunjuk kepada seorang pemuda desa “temani dia!”.
Maka Togar dan pemuda itu segera beranjak ke semak yang bergerak gerak sesaat tadi.
“Tidak ada apa apa Pak” pemuda desa itu berkata kepada Togar. Togar hanya diam dan memicingkan mata, teliti mengamati setiap sudut daerah itu. Dalam hati pemuda desa itu merasa takut, kalau kalau yang membuat semak tersebut bergerak adalah demit.
Selintas ujung tumit Narto terasa gatal maka dimiringkan kakinya yang gatal tersebut dan sebelah kaki lainnya menggaruk pelan bagian yang gatal, perlahan.
Togar memiliki mata yang terlatih dengan baik untuk melihat dalam gelap yang pekat. Telinga yang peka terhadap bunyi yang sayup sayup.
Togar melangkah perlahan, otaknya sedang memperkirakan sesuatu, kira kira satu setengah meter dari tempat dimana ia merasa ada yang mencurigakan ia hentakkan kakinya agak kencang. cukup kencang hentakannya untuk membuat genangan lumpur tersebut muncrat ke wajah Narto yang kebetulan sedang mengamati Togar dari posisinya yang tiarap. Bambang menahan tawa melihat itu.
“Rasain lo” umpat Bambang dalam hati.
Sementara Narto menahan dongkol, emosinya meletup. Andai saja tidak ada pemuda desa itu ia pasti sudah bangkit berdiri dan menghajar si Batak itu namun demi rencana yang sudah tersusun dan agar tidak timbul kecurigaan dari siapapun Narto menahan emosinya.
Togar tersenyum puas. Ia tahu diantara dua orang yang tiarap tersebut, entah Narto entah Bambang ada yang sedang menahan emosi terkena cipratan lumpur dari hentakan kakinya.
“Mampuz kau! Makanya jangan berizik, bikin curiga saza! Kalau sampai gagal matilah awak!” kata Togar dalam hati.
“Ayo kita pergi, zudah berez zemua” Togar mengajak pemuda desa tadi kembali ke kelompok.
Sesampainya di kelompok Togar melapor pada komandannya.
“Ziap, lapor komandan tidak ada apa apa. Hanya binatang yang kebetulan lewat tadi”
“Ya sudah, kembali ke barisan depan. Percepat langkah kita, aku tidak mau mati oleh lahar Kelud itu”
Sementara Togar kembali ke bagian depan dan sang komandan menyulut rokoknya, seorang warga bertanya dengan setengah berbisik kepada pemuda desa yang tadi ikut bersama Togar.
“Bener tadi cuma binatang?”
“Bukan, makhluk halus. Tadi si Batak itu mengeluarkan mantra pakai kaki baru si mahkluk itu pergi”
“Hiyy..” si penanya tadi bergidik.
Selain mahkluk mahkluk halus yang mereka percaya ada dan sering mengganggu mereka, saat ini mereka juga terusik oleh para pencuri yang mengincar rumah rumah yang mereka tinggalkan karena harus mengungsi, Kelud semakin berstatus bahaya. Entah dari mana asal para pencuri itu dan entah dimana hati nurani para pencuri itu.
OOO
Setelah merasa aman Bambang melepas tawa yang sedari tadi di tahannya.
“Mampus kamu! Gimana rasanya lumpur? Hahahaha”
“Diem kamu! Awas nanti si Lae, akan aku balas!”
“Hahaha…memang kamu berani?”
“Udah diem, lama lama kamu yang aku pukul!”
“Iya…iya…hahaha!”
Lalu keduanya terdiam.
OOO
“To, kamu tidak kasihan ya sama mereka?” Bambang memulai obrolan baru.
“Ya kasihan Mbang, cuma mau gimana lagi? Semua teman kita juga begitu, masa kita ga dapet?”
“Iya sih To, cuma kamu kebayang tidak kalau hasil kerja keras kamu bertahun tahun dirampas orang begitu saja?”
“Ya pastilah akan aku pertahankan sebisa mungkin Mbang”
“Itu kali ya To kenapa warga desa susah sekali untuk di evakuasi. Mereka tahu, saat mereka pergi maka kita kita ini yang seharusnya menjaga harta benda mereka justru melakukan hal yang sebaliknya”
“Iya, untung ya Mbang mereka tidak pernah bercerita ke media ya? bakal habis kita kalau mereka cerita”
“Mana mereka berani, wong di tenda pengungsian setiap ada kesempatan orang orang kita akan mengancam mereka dengan cara halus” Bambang terdengar jumawa.
“Cuma kita juga perlu ingetin teman teman kita, kayaknya ada wartawan yang mulai curiga. Dia beberapa kali saya pergoki lagi nanyain itu ama warga di pengungsian”
“Ah, yang bener To? Gawat dong!”
“Asal main cantik, semua pasti aman”
“Terus gimana To? kamu mau terusin aksi kita ini?”
OOO
3 jam kemudian di sebuah sudut desa tersebut.
“Narto? Bambang? Ngapain kalian disini? Kan kalian sedang tidak bertugas di tempat ini?” Sukron teman mereka bertanya. Sepertinya ia kaget akan kehadiran Narto dan Bambang.
“Iseng saja, Suk. Itung itung bantu teman yang sedang bertugas. Kamu sendiri ngapain? yang jaga kan Kancil, Daeng, Ramli, dan teman temannya?” Narto menjawab Sukron.
Belum sempat Sukron menjawab Bambang bertanya lagi.
“Suk, yang kamu bawa itu apa? Kayaknya berat ya? kamu juga , kamu bawa apa Ndre?”
Sukron dan Andre bingung menjawab.
Dari arah lain muncul beberapa orang yang sedang bercakap cakap, sepertinya mereka tidak sadar akan kehadiran Narto, Bambang, Sukron, dan Andre.
“Pokoknya mantap!” Daeng berkata dengan lantang. “Warga sudah tidak ada alasan lagi untuk ada disini, Keludnya sudah mau meledak! Kita masih ada waktu buat ngambil yang bagus bagus, lumayan buat beliin si Nani kalung emas. Sisanya buat foya foya!”
“Hahahahaha…” segerombolan orang orang tersebut tertawa lepas, nampak bahagia dengan rencana mereka.
Narto, Bambang, Sukron, dan Andre terperangah.
!!!
No comments:
Post a Comment