Wednesday, November 14, 2007

Lila

Kupu kupu kecil itu hinggap pada sebuah bunga yang kutatap sejak tadi, bunga putih segar yang dikelopaknya masih tersisa sisa rintik hujan itu indah untuk dipandang. Lewat sebuah sudut kecil di jendela kamar ini aku melihat semuanya itu.
Senja sesaat lagi berganti dengan gelap. Jingga senja hari ini terlihat mengagumkan, sudah lama aku tidak melihatnya. Hampir dua puluh menit Lila terlelap dalam pelukan Brahma. Ia baui rambut lembut Lila, lembut dibelainya helai demi helai.
Kemudian itu hadir kembali, ia terkenang pada saat dulu pertama bertemu Lila.

OOO

Lila berjalan lambat dan mempesona sementara semua yang disekelilingnya bergerak, berputar dengan cepat. Hembusan angin lembut memainkan mahkota indahnya. Begitu indah. Brahmana terpaku, sesaat sepertinya waktu berhenti kemudian dia dihempaskan dari tempat yang begitu tinggi dan meluncur deras.

Ia tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Mata membungkus otak yang terisi realita. Hati terbisik dan bergetar, berdesir mencari makna

Di atas ranjang dihari itu, Brahmana berpikir adakah realita menyentuh apa yang siang tadi dia ingin?

OOO

Denting piano terdengar sayup dari radio, ia besarkan sedikit suaranya

Tahukah engkau wahai langit
Aku ingin bertemu membelai wajahnya
Kan ku pasang hiasan angkasa yang terindah
Hanya untuk dirinya*

Tanpa terasa delapan tahun sudah tiap detik yang berlalu ia habiskan bersama Lila. Hingga sisa akhir hidupnya ingin ia habiskan waktu bersama Lila. Hingga hembusan nafas terakhir ia akan berikan yang terbaik bagi Lila.

No comments:

PERKOSAKATA

PERKOSAKATA

Connected