Valerie Melaka adalah namaku.
Aku anak pertama dan satu satunya dari ayah dan bundaku.
Aku menikmati hidup. Aku diajarkan untuk selalu bersyukur atas apapun yang terjadi dalam hidup ini.
OOO
Kira kira lima bulan yang lalu aku mengenal dia, salah satu karyawan dimana aku bekerja saat ini. Tidak ada yang spesial saat kami bertemu dan berkenalan atau tepatnya saat aku diperkenalkan kepada setiap karyawan diperusahaan ini.
Entah apa dan bagaimana aku sangat menyukai suasana kantor ini, begitu hidup dan dinamis. Dinding dinding ruangan yang dihiasi beragam corak dan warna yang cukup memberi rasa segar untukku dan desain minimalisnya teramat sedap dipandang mata, tidak seperti umumnya interior perkantoran yang senada, monoton, layaknya Jakarta dan rutinitas manusia manusianya.
OOO
Sejak lima tahun yang lalu aku menginjakkan kakiku di kota ini, Bandung - kota kembang. Kota yang asri, sejuk, dan ramah.
Sejak lima tahun yang lalu di kota ini aku tinggal sendiri atau mandiri, tidak bergantung pada saudara dari ayah ataupun bundaku hanya karena satu alasan yakni kebebasan. Dengan cara ini aku bebas mau berbuat apa saja, pulang dan pergi kapan saja, melangkah sesuka hati kemana saja dengan resiko yang kutanggung sendiri atau dengan kata lain bebas bertanggung jawab.
Dua tahun setelahnya, aku memilih untuk tinggal di salah satu apartemen di kota ini. Biayanya kudapatkan dari berbagai kerja serabutan mulai dari penyiar, MC, desainer grafis, menjadi vocal talent untuk radio atau TV ads, hingga menjual berbagai barang baru – yang aku dapat dari kenalan kenalan - kepada teman temanku dengan harga yang jauh lebih murah daripada harga di pasar. Sesekali aku juga diajak sahabatku untuk ikut bernyanyi dari cafe ke cafe, pesta pesta pernikahan, atau acara acara lainnya. Melelahkan memang tapi aku menikmati apa yang kujalani.
Lima tahun di Bandung
Berjuta kisah tergurat
Berpuluh kasih tertoreh
Menyisakan kenangan
Manis dan pahit
OOO
“Val, belum pulang?” sebuah suara menyadarkan Val. Sedikit tergagap Val menoleh kepada lawan bicaranya.
“Oh kamu Grey, bikin kaget saja. Iya nih belum pulang, males kali ya pulang jam segini. Jalanan pasti macet dimana mana ...” Val sedikit mencurahkan isi hatinya.
“Iya, rasanya Jakarta semakin tidak karuan ya Val?”
“Begitulah, tapi itu semua juga karena kita kita juga”
“O iya Val, kita ke PIM yuk? Just sight seeing dan sekalian makan malam, kamu kan belum makan…em maksud saya, sekarang kan sudah waktunya makan malam.”
”Gosh” Grey sedikit salah tingkah, merasa telah salah bicara.
Val penasaran dengan kalimat Grey yang secara terburu diralat.
“Kita?” Val mencoba mengacuhkan rasa penasarannya dengan bertanya hal lain.
“Iya, you and me” jawab Grey
“Are you sure?” Val meyakinkan jawaban Grey.
“Yup, you and me and also…” Grey menekankan kata also sambil tersenyum, Val ikut tersenyum, kemudian Grey melanjutkan kalimatnya. “Hitomi, Franky, Wawan, Sita, Dian, Jali, Rushell, dan beberapa anak marketing.”
“Hahaha, dasar..berangkat jam berapa?”
“Seharusnya sekarang. Kamu siap siap, aku coba cek teman teman lain ya?”
“Beres bos” jawab Val semangat.
Dalam pikirannya Grey bersyukur Val tidak bertanya mengenai kata katanya yang salah, yang sempat membuatnya sedikit salah tingkah. Grey tahu Val belum makan siang tadi, namun ia tidak ingin ada yang tahu mengenai ketahuannya tersebut.
Dalam pikirannya Val bertanya tanya apakah Grey mengetahui ia belum makan? Sepeduli ituah Grey pada teman teman kerjanya? Atau jangan jangan Grey hanya peduli pada dirinya? Ia berharap TIDAK.
Bersambung.
No comments:
Post a Comment