Thursday, January 03, 2008

Karena Dia

Rumah Toyib,
Rabu, 13.56

"Halo"
"Halo"
"Selamat siang tante, ini Jaka"
"O, nak Jaka. Ada apa nih tumben nelpon.."
"Ini tante, ada ?@#y%* ga %^$$? D#@i t@+) @)*ya *&ri## g(* k#$%emu %et&^u. h@#$nya juga tu&%$#"
" halo...halo nak Jaka, suaranya putus putus nak. Kenapa tadi?
" ada Toyib di rumah ga Tan? Dicariin dari tadi ga ketemu ketemu, terus hpnya juga tulalit"
"loh, tadi pagi kan pergi ke sekolah bareng?"
"Iya sih tan, tapi ga lama saat kita nongkrong di kantin Toyibnya pergi entah kemana. Padahal abis itu janjinya kita mau ngumpul bareng sama temen temen yang lain, sekarang dia udah ditungguin nih"
"wah tante ngga tau tuh nak Jaka"

Rumah Toyib.
Rabu, 12.10

Ibu Toyib sedang terlihat sibuk memasak didapur. Malam nanti suaminya, dan Toyib - satu satunya anak mereka - akan mengadakan makan malam bersama untuk merayakan di terimanya Toyib di bangku kuliah. Ia dan suaminya yakin sekali kalau Toyib pasti ujian masuk universitas karena itu mereka tidak ragu untuk mempersiapkan makan malam bersama ini meski pengumuman baru diadakann pagi harinya.

" o ala...koq bisa ya aku lupa beli garam? " gerutu ibunya Toyib.

Maka ia segera mematikan kompor yang sedang menyala tersebut dan bergegas menuju bagian depan rumah untuk mengambil selopnya.

Ia akan membeli garam di toko Bu Juju yang terletak beberapa rumah dari rumahnya, persisnya 20 meter ke arah sebelah kanan rumahnya lalu belok ke kanan lagi. Sengaja ia tidak mengunci pagar karena ia hanya akan pergi sebentar dan toh lingkungan rumahnya sangat aman pikirnya.

Sebenarnya kalau keluar dari rumah Toyib ada dua pilihan, ke kanan dan ke kiri. Jika ke kanan seperti yang ibu Toyib lakukan sekarang ini kita akan menemukan toko Bu Juju, taman komplek, posyandu, dan kantor kelurahan.

Sedangkan jika mengambil ke kiri kita akan menemui rumah pak RT, pos kamling RT setempat, dan toko Ibu Seli yang hari ini masih tutup berhubung yang empunya baru pulang dari kampung halamannya lusa nanti. Masih bagian sebelah kiri dari rumah Toyib, jika kita kemudian mengambil ke kiri di gang ke dua dan berjalan sekitar dua ratus meter maka kita akan menemui jalan raya.
" rasanya aneh aku bisa lupa membeli garam, padahal tidak biasa biasanya aku melupakan sesuatu. Jangan jangan ini pertanda sesuatu...tapi apa ya?" Ibu Toyib menggumam sendiri dalam perjalanannya menuju toko Bu Juju, tak lama ia berbelok ke kanan dan hanya dalam beberapa langkah lagi ia akan sampai. Dilihatnya beberapa ibu ibu sedang asyik berbincang di depan toko Bu Juju.

Sesaat setelah Ibu Toyib berbelok ke gang toko Bu Juju Toyib muncul dari gang kedua sebelah kiri rumahnya dengan kecepatan lari yang luar biasa, keadaannya terlihat sangat berantakan, dengan peluh yang deras pula!

Sesampainya di rumah ia langsung menghambur ke kamarnya di lantai atas, tidak lupa ia bawa serta sepatunya ke lantai atas. Toyib memiliki cukup banyak koleksi sepatu dan semua sepatu tersebut berada di rak sepatu di depan pintu kamarnya. Semuanya dalam keadaan yang bersih dan terawat. Toyib memang terkenal akan kebersihan, ketelitian, ketekunan, dan kerapihannya yang didapat dari hasil didikan orang tua. Satu contoh nyata lagi selain sepatu tadi adalah jika kita perhatikan dengan teliti bahwa meskipun tadi dia langsung menghambur ke dalam rumah, dia masih sempat menutup pintu pagar dan rumah persis dengan keadaan sebelumnya


Rumah Toyib,
Rabu, 13.56

" dari tadi ibu dirumah dan dia belum pulang tuh nak.."
" o ya sudah bu, biar nanti kita cari lagi"
" sebentar sih kita sekeluarga janjian akan makan malam bersama. Nanti klo dia datang tante suruh hubungi nak Jaka deh."
" o gitu tante..."
" iya, sekalian aja klo bisa nak Jaka ikutan"
" wah terima kasih tante, tapi saya juga ada janji "
" o...eh iya nak, sampai lupa nih. Gimana kalian lulus tidak?
" o iya tante sampai lupa bilang...Jaka sama Toyib lulus Tante, bahkan Toyib diterima di pilihan pertamanya tante"
" o iya ya?...puji Tuhan, Alhamdulillah..."
" ya sudah tante, nanti agak malam saya usahakan datang ke rumah tante ya? Selamat siang tante"
" Selamat siang juga " lalu Ibu Toyib menaruh gagang telepon.

Setelah menutup telepon kemudian Ibu Toyib bertanya tanya dalam hati kemanakah gerangan buah hatinya itu pergi? Namun demikian ia yakin Toyib akan baik baik saja maka ia melanjutkan pekerjaannya membereskan rumah sambil menonton acara TV kesayangannya.
Terima kasih untuk masukkannya, saya sudah coba perbaiki dibagian ini. Ditunggu terus masukkannya ya...

///

Kita tidak pernah akan mengerti mengapa seseorang menjadi sangat berarti dalam hidup kita...

///

PART II

Kantin sekolah
Rabu, 11.05

"Mang Encep, gua biasa pesen mie ayam satu ya, ga pake lama" Toyib memesan makanan kesukaannya. Sesaat kemudian dia melangkah menghampiri teman temannya yang sedang ngobrol di tengah tengah kantin.

"Halo bro...gimana nih acara kita, udah beres semua?" tanya Toyib kepada Mamat, ketua acara farewell party geng Toyib. "lo nyantai aja deh Yib, Mamat gitu loh...!" jawab Mamat semangat dan bangga.

Di tengah riuh rendah keadaan kantin sesaat kemudian tiba tiba rekan rekan Toyib tampak berbisik bisik dan memandang ke suatu sudut kantin ini, tepatnya ke arah tempat jualan Mpo Yeni. Di sana, persis beberapa derajat di samping televisi kantin 17 inch yang suaranya cukup terdengar sampai ke tempat Toyib berdiri dan sedang memutar acara infotainment, terlihat Jaka sedang bercakap cakap dengan Nirmala. Toyib memandang ke sana.

Semua siswa di sekolah ini tahu bagaimana kisah Jaka dan Nirmala. Harusnya mereka sudah bisa jadian sayangnya Jaka si raja jalanan sekolahan ini tidak berani berbicara atau lebih tepatnya tidak mampu mengucap sepatah katapun jika dihadapan Nirmala dan Nirmala pun sebaliknya, padahal - lagi lagi - semua juga tahu kalau mereka saling suka. Bahkan mereka berduapun sama sama tahu bahwa mereka saling suka.

Teman teman Jaka sangat mendukung Jaka untuk jadian dengan Nirmala, begitupun teman teman Nirmala. Berkali kali mereka menjebak kedua orang ini dalam sebuah situasi yang membuat mereka saling berbicara namun mereka selalu gagal. Betapa gemasnya mereka melihat kedua orang ini.

Sementara itu Jaka dan Nirmala tidak sadar bahwa mereka kini sedang menjadi pusat perhatian, Jaka sangat terlihat sedang berusaha menenangkan diri dalam percakapan tersebut sedangkan Nirmala meski gugup lebih mampu menguasai diri.

Betapa menariknya tingkah polah kedua siswa tersebut sehingga tanpa komando setiap orang yang ada di dalam kantin kemudian terdiam menyaksikan Jaka dan Nirmala, beberapa ada yang senyum senyum, bisik bisik, dan berusaha mencuri dengar apa yang mereka bincangkan. Mang Encep yang hendak menyerahkan mie ayam pesenan Toyib-pun kini hanya diam berdiri mematung di samping Toyib sambil memandang ke arah Jaka dan Nirmala.

Lalu setelah beberapa detik berlalu.

Jaka menoleh, ia tersadar bahwasanya setiap orang sedang memandang mereka dan sontak mukanya memerah. "mati gua."
Tidak lama berselang Nirmala lalu ikut tersadar, segera ia tundukkan wajahnya dalam dalam.

Kini dua orang anak manusia yang tengah membara api asmaranya tersebut seperti pesakitan di ruang sidang.

"Anjrit! Raja jalanan akhirnya berani juga!" Bejo - tangan kanan Jaka di komunitas motor sekolah mereka - melontarkan ejekan.

Wajah Jaka semakin memerah. Malu...

"Kang Jaka, ambilin Mala bulan kang" Asih meledek Jaka.
"Apa lo Sih? Gua beri nih!" Jaka menggertak Asih dan teman teman yang lain.
"Ah...jantan banget sih, di depan sang bidadari tampil dengan gagah berani...mauw dong bo" Tuti yang duduk bersama Asih dan beberapa siswi perempuan bersemangat menjawab gertakan Jaka.
"Aku boleh anterin kamu pulang ga nanti" celetuk seseorang siswa mengulang kalimat Jaka tadi kepada Nirmala. Sayangnya pertanyaan Jaka ini belum mendapat jawaban dari Nirmala.
"Boleh....kenapa dari dulu aja!" sahut siswi lain gemes.

Sontak mereka berteriak teriak tak tentu arah, bersiul, memukul mukul meja, membuat bebunyian dari mangkok mangkok dan botol botol minuman yang di pukul pukul dengan sendok.

"Aku nih yee..." teriak Somad ditengah gemuruh para siswa, maka semakin menjadi jadi lah mereka berteriak.

"ga mungkin...." batin Toyib.

Melihat teman temannya semakin tidak terkendali Jaka segera mencari Toyib dari tempatnya berdiri, ia butuh bantuan untuk membuat semua anak anak ini diam. Dilihatnya Toyib namun pemuda itu segera beranjak pergi meninggalkan kantin, Jaka bermaksud mengejarnya namun sebuah celetukkan menyurutkan langkahnya.

"Kang Jaka, jangan makanannya Nirmala aja yang dibayarin atuh...Asih juga dong kang." Asih melanjutkan ejekan.

"Au ah..." Jaka menjawab sekenanya. Jengkel hati Jaka mendengarnya.

Bergegas Jaka mengejar Toyib namun langkahnya terhenti di pintu kantin karena empat orang teman Jaka menghadang.

"Mau kemana lo?"
"Mau kabur ya? Ninggalin Nirmala sendirian?" sambil mendorong Jaka kembali ke dalam Budi berkata.
"Udah deh jangan pada rese lo semua..." Jaka coba menahan emosinya.
"Kalau gua sendirian dan bukan soal Nirmala gua ga akan berani Jak, tapi ini soal harga diri lo sebagai ketua komunitas motor sekolahan man, sori..lo mesti balik kesana" Bejo menerangkan.
"damn...! ada apa dengan anak itu?" Jaka bertanya dalam hatinya.

PART 3

Bagian terakhir...finally! Terima kasih sekali lagi.

///

Jangan menganggap remeh sesuatu atau seseorang karena bukan tidak mungkin dari sana kita mendapat inspirasi...

///

Kamar Toyib.
Rabu, 12.14

Toyib beranjak dari kursi dan menjatuhkan diri ke atas ranjangnya, ia tinggalkan komputernya tetap menyala.

" Ya Tuhan..." Toyib membatin di atas ranjang di dalam kamarnya.

Matanya kemudian menatap foto seseorang yang dia dikeluarkan dari bagian tersembunyi di dompetnya, foto ini hanya Toyib yang memiliki karena waktu itu ia diam diam tanpa ada yang menyadari ikut memotret perempuan tersebut. Kualitas warna dan ketajamannya memang tidak terlalu bagus mengingat kamera hp-nya yang biasa biasa saja, namun ia puas karena mendapatkan moment yang sangat pas yakni saat ia sunggingkan senyumnya tepat ke arah dimana Toyib berdiri waktu itu. Mungkin hanya kebetulan belaka sehingga seakan akan dia tersenyum pada Toyib.

Sejak detik itu ia simpan rapat rapat semua yang ia rasakan terhadap perempuan ini, ia gali dalam dalam lubuk hatinya yang terdalam dan ia letakkan rahasia ini di dalam sana. Tidak seorangpun yang mengetahuinya, bahkan tidak pula Jaka sahabat yang sudah ia anggap sebagai saudara sendiri.

Toyib terbawa kembali ke masa dimana dia pertama kali memandangnya, sungguh betapa ia mengagumi keteduhan wajahnya. Toyib tidak kuasa menahan rasa yang membuncah di dalam dadanya. Dentumannya terasa sangat hebat, bulat dan dalam.

Tidak pernah terpikirkan oleh Toyib kalau tenyata akan seperti ini akhirnya.

///

Ruang kelas sebuah Universitas
Tiga bulan setelahnya, 10.05

"Selamat pagi semua..."

Toyib yang sedari tadi menunduk di kursinya di barisan paling depan kini mengangkat wajahnya dan melihat sosok manis itu melangkah anggun di depan matanya.

"Diandra Paramitha Sastrowardoyo"

Meski aku tahu aku tidak akan pernah menjadi kekasihnya...setidaknya dia akan menemani aku dalam ruang kelas ini sambil menuturkan kata demi kata dan kalimat demi kalimat, serta sesekali ia akan haturkan senyumnya padaku.

Toyib begitu kaget saat dirinya mengetahui bahwa Dian Sastro akan menjadi dosen pengajar di jurusan universitas yang dipilihnya, hingga dengan begitu kejam ia meninggalkan Jaka yang sedang butuh bantuannya di kantin waktu itu. Saat seluruh yang ada di kantin memperhatikan Jaka dan Nirmala ia malah memusatkan perhatiannya pada infotainment yang sedang menayangkan Dian Sastro yang akan menjadi dosen pengajar.



"Ide yang muncul saat lagi stuck dan infotainment memberitakan Dian Sastro akan menjadi dosen"

No comments:

PERKOSAKATA

PERKOSAKATA

Connected